Maulid Nabi Dan Hukum Maulid Nabi Dalam Islam. Nabi Muhammad Saw. Merupakan nabi terakhir sebagai pembawa risalah keagamaan. Setelah nabi Muhammad Saw. tidak ada nabi yang lain. Jika ada yang mengaku menjadi nabi, maka bisa dipastikan bukanlah nabi asli, namun palsu.
Berbicara masalah nabi, tentu sebagai ummat Islam tidak bisa pisah dengan yang namanya hari kelahiran. Hari kelahiran atau yang disebut dengan maulid dalam bahasa arab, sudah banyak dikenal masyarakat kita. Namun setiap tahun itu pula, masalah ini kadang jadi perbincangan yang tak pernah putus.
Perayaan Maulid : adalah perayaan atas kelahiran nabi Muhammad Saw. dengan berbagai macam acara, mulai dari pembacaan sejarah nabi, membaca al-Qur'an dan juga sedekah dengan jamuan-jamuan semampunya.
Kata Maulid berasal dari kata walada - yalidu - maulidan yang berarti kelahiran. Kelahirasan seseorang tidak lepas dengan yang namanya sejarah. Sejarah kelahiran nabi sudah banyak diulas dalam kitab-kitab sirah nabawi yang mana hal ini untuk menjadi pengenang ummatnya agar bisa meniru akhlak dan budi pekerti rasul. Namun ada saja orang yang enggan untuk mengenang sejarah rasul khususnya sejarah kelahiran rasul yang dianggap sebagai perbuatan bid'ah.
Isi dari perayaan maulid yang kerap digelar oleh masyarakat kita adalah dengan membaca sejarah-sejarah rasul, membaca qur'an dan juga bersedekah. Jika dilihat dari akal sehat, kira-kira mengenang sejarah rasul dengan cara membacakan sejarahnya di hadapan orang banyak sekaligus juga disampaikan melalui dakwah atau ceramah, tentu hal ini termasuk perbuatan yang bagus. Dalam pandangan anda, kira-kira kemunkaran dari segi mana jika kita membacakan sejarah rasul untuk menambah kecintaan dan menambah semangat keislaman?
Makanya mereka yang tidak suka dengan acara maulid dengan dalih tidak pernah dilakukan oleh nabi dan dianggap itu sebagai perbuatan bid'ah, hal ini sangat dangkal sekali. Apakah sesuatu yang tidak ada pada masa nabi itu disebut bid'ah? Jika ia, maka lihat sekujur tubuhmu, mulai dari awal hingga akhir, semuanya adalah bid'ah. Jika bid'ah maka kamu berhak masuk neraka. Sebab katanya yang bid'ah itu sesat, dan yang sesat itu masuk neraka.
Cara untuk menumbuhkan cinta kepada baginda Nabi Muhammad Saw. salah sataunya adalah merayakan maulid dengan cara membaca sejarah dan juga sholawat. Apakah salah jika membaca sholawat bersama-sama?
Suatu ketika nabi ditanya tentang puasa senin. Nabi menjawab pertanyaan itu "Karena di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu juga aku mendapatkan wahyu" (HR. Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Ahmad Bin Hambal).
Pada mulanya, pertantanyaan itu adalah untuk menanyakan tentang puasa senin. Kemudian nabi menjawab demikian yakni hari senin merupakan dimana beliau dilahirkan dan mendapatkan wahyu menunjukkan bahwa nabi juga menghormati terhadap hari lahir beliau sendiri.
Kemudian nabi Muhammad Saw. merupakan orang yang paling istimewa dengan mendapatkan maqom atau tingkatan mahmudah disis Allah. Artinya Allah sebagai tuhan juga memuliakan nabi dengan membacakan sholawat sebagaimana dalam surat Al-Ahzab ayat : 56.
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".
Dalam perayaan maulid, tidak pernah ada yang namanya minum-minuman keras, judi, togel, atau yang berbau maksiat. Bisa dipastikan, setiap acara maulid digelar, selalu penuh dengan bacaan sholawat. Hal ini sesuai dengan perintah Allah bahwa orang yang merasa beriman hendaklah bersholawat kepada baginda Nabi karena membaca sholawat kepada beliau adalah sebuah penghormatan.
Apabila ada orang yang membacakan sholawat kemudian dianggap sebagai perbuatan bid'ah atau syirik karena terlalu mengagungkan kenabian Muhammad Saw. maka perlu dipertanyakan, kiranya apakah iman atau tidak, cinta nabi atau tidak?
Menghormati nabi tidak sama dengan menyembah nabi. Dalam diksi bahasa arab, kata menyembah dalam bahasa arabnya adalah ya'budu sedangkan menghormati atau penghormatan dalam bahasa arabnya adalah yuhrimu. Jelas bahwa kedua kata itu tidak sama dan tidak bisa disamakan.
Ibnu Taimiyah dalam kitabnya I'tidha' al-Shirath al-Mustaqim hlm. 297 mengatakan :
"Mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai hari raya setiap muslim dilakukan oleh sebagian orang, dan ia akan memperoleh pahala yang sangat besar karena niatnya yang baik dan kerena mengagungkan rasulullah saw sebagaimana telah aku sampaikan padamu".
Syeh al-Imam al-Hasan al-Bashri dalam kiktab Syarah I'anah al-Thalibin Jus 3 hlm. 255 berkata :
"Andai saja aku memiliki emas sebesar gunung uhud, maka sungguh aku akan dermakan itu semua untuk penyelenggaraan Maulid Rasul Saw.".
Syeh Junaid al-Baghdadi dalam Risalah al-Qusyaitiyah Karangan Abu Al-Qasim bin Abdul Karim Hawazin hlm. 430 mengatakan :
"Barangsiapa menghadiri maulid rasul dan mengagungkannya (memuliakan) kedudukannya, maka ia telah sukses dengan keimanannya".
Sebenarnya masih banyak pendapat-pendapat ulama tentang perayaan maulid yang memperbolehkannya. Di atas hanya beberapa cuplikan saja yang barangkali bisa jadi spirit para pecinta Rasulullah Saw. agar tetap tegar dan tidak goyah atas serangan-serangan orang yang menganggap merayakan maulid sebagai ahli bid'ah atau ahli sesat.
Sebagaimana dasar di atas, maka bisa disimpulkan bahwa merayakan maulid bukanlah haram, namun mubah (boleh).
Mereka yang tidak suka dengan maulid adalah dari kalangan wahabi yang bisa dibilang ahli menyesatkan orang lain atau suka membid'ahkan orang.
Mereka bisa menganggap perayaan maulid adalah bid'ah sebab pada zaman Rasulullah adalah bid'ah. Rasul tidak pernah memerintahkan ummatnya untuk melakukan perayaan maulid. Apabila perbuatan yang dilakukan itu tidak pernah diperintahkan oleh rasul, maka termasuk bid'ah. Setiap yang bid'ah itu adalah sesat.
Kedua mengagungkan nabi terlalu berlebihan seperti halnya membaca sholawat dengan ditambahi sayyidinia atau berholawat bersama dengan mengagungkan nabi termasuk perbuatan syirik.
Jawaban :
Dalam pandangan Ahlusunnah definisi bid'ah adalah sesuatu yang baru yang tidak ada pada masa rasul. Itu benar. Namun tidak setiap bid'ah itu sesat. Ahlusunnah membagi beberapa bagian tentang bid'ah, ada bid'ah hasanah dan juga bid'ah sayyiah. Menambah rekaat sholat itu termasuk bid'ah sayyi'ah karena tidak ada tuntunan sebagaimana sholat rasul. Namun mengkumpulkan al-Qur'an menjadi satu semasa Khalifah Abu Bakar dan dilanjutkan Khalifah Umar hingga terkumpul jadi satu yang mulanya berserakan pada pohon-pohon merupakan amalan bid'ah. Hal ini sebagaimana perayaan maulid merupakan bid'ah hasanah.
Jika wahabi tidak ingin melakukan bid'ah, maka silahkan cari al-Qur'an asli yang ditulis di pohon-pohon korma, kulit onta, kira-kira mau gak? bukankah al-Qur'an yang ia baca sekarang ini termasuk al-Qur'an Bid'ah?
Kemudian masalah penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw yang dianggap sangat berlebihan bagi pencinta nabi bukanlah berlebihan. Penghormatan nabi tidak sama penghambaan orang nasrani kepada nabi Isa yang menjadikan nabi Isa sebagai tuhan. Perlu diingat, penghormatan hanya sebatas penghormatan atau dalam bahasa arabnya "yuhrimu", bukan "ya'budu" (penghambaan sebagaimana orang nasrani menjadikan Nabi Isa sebagai tuhan). Jadi jelaslah, mengormati nabi hanya sekedear menghormati sebagai bukti cinta nabi, salah satunya adalah dengan membaca sholawat dan merayakan maulid Rasul Saw.

