Mungkin anda sudah pernah mendengar cerita Siti Mashithah yang direbus Raja Fir'aun semasa sekolah dulu. Biarpun begitu, kali ini saya tetap ingin berbagi carita Siti Mashithah yang sangat luar biasa dalam mempertahankan keimanannya walaupun haru menghadapi kematian.
Alkisah pada saat Siti Mashithah sedang menyisir rambut anak Fir'aun tiba-tiba sisir yang digunakan tadi jatuh. Ketika jatuh, sebagaimana kebiasaan orang beriman, akan menyebut kalimat-kalimat terpuji. Pada saat itu Siti Mashithah menucapkan kalimat "Astaghfirullah" di depan anak Fir'aun.
Mendengar kalimat yang diucapkan Siti Mashithah tadi, anak Fir'aun bertanya kepada Siti Mashithah. Apa yang kamu upcapkan tadi?" . Siti Mashithah menjawabnya, bukan apa-apa kok tuan putri.
Pada waktu itu, Raja Fir'aun sedang mengaku menjadi seorang tuhan. Apabila ada orang istana yang berani berkhianat dengan Fir'aun, maka bisa habis nasibnya.
Kemudian Anak Raja Fir'aun tadi menemui pamannya, bernama Haman. Paman kemarilah, ada yang perlu aku omongkan kepadamu. Baik tuan putri, jawab pamannya.
Begini paman, tadi aku mendengar dari mulut Siti Mashithah keluar perkataan yang tidak aku mengerti. Perkataan itu seperti astaga atau bagaimana gitu. Yang jelas aku tidak paham maksudnya. Kemudian paman tadi menebak, apakah kalimat itu Astaghfirullah tuan putri?". Kemudian tuan putri menjawabnya, iya benar kalimat itu paman.
Kamu dengar dari mana?" tanya pamannya. Saya mendengarnya sendiri paman, jawab tuan putri.
Yang diucapkan Siti Mashithah itu adalah ajaran Nabi Musa si penyihir itu, terang pamannya kepada tuan putri. Kemudian tuan putri kaget dan berkata, astaga ternyata Siti Mashithah, tukang sisir ku tadi sudah berkhianat dengan ayahku.
Kemudian setelah peristiwa itu paman Haman melapor kepada sang raja, Fir'aun mengenai apa yang dilakukan Siti Mashithah. Mendengar cerita dari sang paman Haman, kemudian Fir'aun ingin mengetahui kebenaran pastinya dari sang putri langsung. Sang putri sebagai pihak pertama yang tahu akhirnya dipanggil ayahnya. Di depan ayahnya sang putri mengatakan bahwa ia melihat dan mendengarnya sendiri dari mulut Siti Mashithah.
Setelah mendapat cerita kebenaran itu, Raja Fir'aun marah dan merasa dikhianati karena ada orang yang menganut ajaran Musa dan tidak mau mengakui bahwa Fir'aun adalah seorang tuhan. Raja Fir'aun memanggil pengawalnya dan menyuruh untuk memanggil Siti Mashithah beserta keluarganya menghadap raja.
Setelah sampai di depan raja, Fir'aun kemudian bertanya, tahukah kamu kau saya panggil?. Siti Mashithah kemudian menjawab, tidak tahu tuan!!
Aku mendengar kau seorang pengikut Musa? Tanya Fir'aun membentak. Kemudian Siti Mashithah menjawabnya, benar tuan.
Tahukah kamu akibatnya jika kau jadi pengikut Musa? bentak Fir'aun lagi. Iya tahu Tuan, jawab Siti Mashithah dengan entengnya.
Setelah itu, Fir'aun kemudian menyuruh pengawalnya untuk menjalankan hukuman terhadap Siti Mashithah. Hukuman yang diterima Siti Mashithah sangat mengerikan sekali. Siti Mashithah dan keluarganya akan direbus Fir'aun dengan dimasukkan dalam kuali besar yang berisi air dan direbus di atas api.
Suami Siti Mashithah dipanggil untuk maju pertama. Sebelum direbus, suami berpesan agar Siti Mashithah tetap menjaga keimanannya dan jangan sampai luntur.
Setelah suaminya, kemudian anak dewasanya maju menghadap kuali berisi air mendidih. Sebelum masuk, ia berpesan kepada Siti Mashithah kelak akan bertemu kembali di surga nanti.
Setelah anak dewasanya, barulah anak balitanya yang masih kecil dan belum bisa berbicara. Melihat anak balitanya akan masuk ke kuali penuh air rebusan itu, hati Siti Mashithah terasa tak tega. Hampir saja ia tak kuat menahan air mata dan kasihan.
Ternyata Allah menunjukkan mukjizatnya, anak balita Siti Mashithah yang belum bisa bicara itu ternyata bisa ngomong dan berpesan kepada ibundanya, Siti Mashithah, jangan ragu bu janji Allah itu pasti!!!.
Setelah anak balitanya barulah Siti Mashithah dimasukkan ke kuali besar. Namun Allah memberi kemudahan bahwa air yang seharusnya panas karena direbus tersebut ternyata tidak terasa panas sebagaimana biasanya.
Intinya, dalam keadaan apapun, baik dalam susah senang, kaya miskin, di atas di bawah, jangan sampai menggadaikan keimanan kita. Iman kepada Allah lebih mahal dari yang lainnya sebagaimana ancaman Raja Fir'aun yang sadis itu.

