Kangsantri. Rabu wekasan merupakan rabu terakhir dari bulan Shofar. Rabu terakhir pada bulan ini dipercaya mengandung sejumlah misteri. Diyakini bahwa pada hari rabu wekasan ini Allah Swt. menurunkan sejumlah balak ke bumi. Sehingga agar terhindar balak tersebut, sejumlah orang terutama anak pondok pesantren, melakukan sejumlah amalan-amalan.
Source: nuralhuda.org
Ada sebagian yang membuat air salamun. Air salamun merupakan air berasal dari tulisan salamun yang mana tulisan atau lafal salamun diambil dari al quran. Tidak ada tujuan lain memohon kepada Allah agar diberi keselamatan melalui air yang sudah diberi doa tadi.
Kemudian selain itu, ada amalan sholat yang dilakukan ketika menjelang malam rebu wekasan. Malam rabu wekasan jatuh pada selasa malam rabu, bukan rabu malam kamis. Jika hari ini Selasa, maka nanti malam adalah malam rabu. Dan pada malam itulah, menjalankannya sholat.
Semua amalan itu bertujuan memohon kepada Allah agar diberi keselamatan dari balak. Sholat hanya sebagai wasilah atau perantara memohon kepada-Nya.
Berikut ini cara melakukan amalan sholat rabu wekasan :
Sholat dilaksanakan empat roka’at, baik dengan dua tasyahud satu salam, dengan niat:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلهِ تَعَالَى
Atau dua tasyahud dua salam, dengan niat:
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى
Setelah membaca Al-Fatihah, kemudian membaca Surat Al-Kautsar 17x, Surat Al-Ikhlash 5x, Surat Al-Falaq 1x dan Surat An-Nas 1x. Hal ini dilakukan tiap rokaat. Artinya tiap rokaat membaca semua surat tersebut.
Selesai sholat empat rokaat, kemudian membaca Do’a ini:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Tata cara ini ada di kitab Kanzun Najah Was-surur Karya Syekh Abdul Hamid Qudus, dan Dinuqil dalam kitab Nubdzatul Anwar.

