Tradisi Ngapati dan Mitoni dalam Pandangan Islam

ads

Kangsantri. Satu hal yang sering menjadi perbincangan banyak orang adalah tradisi ngapati dan mitoni. Apa itu ngapati, dan apa itu mitoni? Bagaimana pandangan Islam tentang budaya ini? Apakah diajarkan dalam syariat?

source:www.solusiislam.com
Ngapati merupakan tradisi selametan ketika istri sedang hamil empat bulan. Oleh orang jawa pada bulan ke empat ini diadakanlah selamatan. Sebab pada bulan ini Allah akan meniupkan ruh pada janin, jodoh, rejeki, dan juga ajal. Tidak ada tujuan lain dengan mengadakan selamatan memohon kepada Allah agar diberi yang terbaik atas semuanya itu. 

Baca Juga : Amalan Rabu Wekasan

Biasanya pemilik rumah akan mengundang tetangga kanan kiri, depan belakang, untuk selamatan. Pada selamatan itu, akan dibacakan dtahlil dan doa doa khusus untuk ngapati. Habis melaksanakan tahlil, para undangan diberi satu persatu bungkusan nasi (berkat) sebagai bentuk terimakasih karena sudah mendoakan bersama sama jabang bayi yang baru berusia 4 bulan. Tidak ada tujuan lain bahwa semua yang menentukan hanya Allah Swt, sedangkan selamatan hanyalah wasilah, yakni sedekah.

Kemudian mitoni adalah selamatan yang diadakan setelah janin berusia 7 bulan. Hal ini sama ketika usia empat bulan. Semua dilakukan dengan berdoa dan bersedekah, memohon kepada Allah agar diberi yang terbaik bagi sang janin.

Pandangan Islam Tentang Budaya Ngapati dan Mitoni

Dalam pandangan Islam dasar tradisi Ngapati dan Mitoni memang tidak ada. Namun tradisi ngapati dan mitoni bukanlah amalan ibadah mahdloh, namun ghoiru mahdloh. Dan amalan ini juga bukan termasuk sunnah, sehingga boleh melakukannya dan juga tidak. Namun oleh orang tua jawa dulu jangan sampai meninggalkan tradisi ini karena mengandung sejumlah doa dan keberkahan.

Tradisi ini termuk bid'ah yang memang tidak ada pada zaman rasul. Namun, karena ini bukan ibadah mahdloh, maka boleh saja dan termasuk juga bid'ah hasanah. Mengapa? karena di dalam acara ini, terdapat bacaan al quran, tasbih, dan juga sholawat yang mana semua itu termasuk amalan amalan yang baik dalam pandangan agama Islam.

Lain halnya jika pada tradisi mengandung unsur yang dilarang dalam syara', misal minum-minuman keras, berjudi, berzina, dan lain lain. Tentu saja termasuk bid'ah qobihah, tercela.

Perlu diketahui bahwa dalam menjalankan tradisi ini tidak harus dilaksanakan ketika bayi berusia 4 bulan atau tujuh bulan. Karena jika ini dianggap disyariatkan, maka tidak boleh. Bagi yang ingin melaksanakan, maka silahkan saja. Sebaliknya, jika tidak mengamalkan, tidak masalah.

Setiap orang punya keyakinan sendiri-sendiri. Bagi orang jawa, tradisi ini dianggap layak dilestarikan karena di dalamnya terkandung unsur kebaikan.


Tradisi Ngapati dan Mitoni dalam Pandangan Islam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: hh
 

Top